SUMPAH DALAM AL-QUR’AN
Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah
Kata sumpah berasal dari bahasa Arab اْلقَسَمُ al-qasamu yang bermakna اْليَمِينُ al-yamiin yaitu menguatkan sesuatu dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan dengan menggunakan huruf-huruf (sebagai perangkat sumpah) seperti wawu dan huruf lainnya.
Huruf-huruf yang berfungsi sebagai perangkat sumpah ada 3 macam :
1. Wawu ( و)
Seperti firman Allah ta’ala :
فَوَرَبّ السّمَآءِ وَالأرْضِ إِنّهُ لَحَقّ
Maka Demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi)” (QS. Adz-Dzariyaat : 23).
Dengan masuknya huruf wawu – sebagai huruf qasam – maka ’amil (pelaku)nya wajib dihapuskan. Dan setelah wawu harus diikuti dengan isim dlahir.
2. Ba’ ().
Seperti dalam firman Allah ta’ala :
لاَ أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ
”Aku bersumpah dengan hari kiamat” (QS. Al-Qiyaamah : 1).
Dan dengan masuknya huruf Ba’ ini boleh disebutkan ’amil-nya sebagaimana contoh di atas, dan boleh juga menghapusnya, sebagaimana firman Allah ta’ala tentang iblis :
قَالَ فَبِعِزّتِكَ لاُغْوِيَنّهُمْ أَجْمَعِينَ
”(Iblis) berkata : Maka Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya” (QS. Shaad : 82).
Setelah huruf Ba’ boleh diikuti isim dlahir sebagaimana telah dicontohkan di atas, dan boleh juga diikuti oleh isim dlamir, sebagaimana perkataan :
اللهُ رَبِّيْ وَبِهِ أَحْلِفُ لَيَنْصُرُنَّ اْلمُؤمنِيْنَ
”Allah Rabbku, dengan-Nya aku bersumpah sungguh Dia akan menolong orang-orang beriman”
Seperti dalam firman Allah ta’ala :
تَاللّهِ لَتُسْأَلُنّ عَمّا كُنْتُمْ تَفْتَرُونَ
”Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang kamu ada-adakan” (QS. An-Nahl : 56).
Dengan masuknya huruf Ta’ ini, ’amil (pelaku)-nya harus dihapuskan dan tidak bisa diikuti sesudahnya kecuali isim jalalah (nama Allah), yaitu الله atau ربّ. Sebagaimana dalam perkataan :
وَرَبِّ اْلكَعْبَةِ لَأحَجَنَّ إِنْ شَآءَ اللهُ
”Demi Rabb Ka’bah, sungguh aku akan berhaji insyaAllah”
Pada dasarnya, kebanyakan al-muqsam bih (sesuatu yang dijadikan dasar atau landasan sumpah) itu disebutkan, sebagaimana pada contoh-contoh terdahulu. Dan kadang-kadang dihapus dengan ‘amil (pelaku)-nya. Bentuk yang seperti ini banyak sekali, misalnya dalam firman Allah ta’ala :
ثُمّ لَتُسْأَلُنّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النّعِيمِ
Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (QS. At-Takaatsur : 8).
Pada dasarnya, kebanyakan al-muqsam ‘alaih (sesuatuyang disumpahkan) disebutkan. Seperti dalam firman Allah :
قُلْ بَلَىَ وَرَبّي لَتُبْعَثُنّ
Katakanlah : “Tidak demikian, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan” (QS. At-Taghaabun : 7)
Dan kadang-kadang boleh dihapus, seperti dalam firman Allah ta’ala :
قَ وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ
Qaaf, demi Al-Qur’an yang sangat mulia” (QS. Qaaf : 1).
Dan takdirnya (kata yang tidak disebutkan) adalah لَيُهْلِكُنَّ , sehingga maknanya menjadi : “Qaaf, demi Al-Qur’an yang sangat mulia, sungguh Dia pasti akan membinasakan”.
Dan kadang-kadang wajib dihapuskan apabila diawali atau didahului oleh faktor-faktor yang memperbolehkannya. Berkata Ibnu Hisyam dalam kitab Al-Mughni, dan dicontohkan dalam kaidah nahwu :
“Zaid sedang berdiri, demi Allah “ زَيْدٌ قَائِمٌ وَاللهِ
“Zaid, demi Allah, sedang berdiri” زَيْدٌ وَاللهِ قَائِمٌ
Sumpah memiliki 2 faedah, yaitu :
1. menjelaskan tentang agungnya al-muqsam bihi (yang dijadikan landasan atau dasar sumpah).
2. Menjelaskan tentang pentingnya al-muqsam ‘alaih (sesuatu yang disumpahkan) dan sebagai bentuk penguat atasnya. Oleh karena itu, tidaklah tepat bersumpah kecuali dalam keadaan berikut :
a. Hendaknya sesuatu yang disumpahkan (al-muqsam ‘alaih) itu adalah sesuatu yang penting
b. Adanya keraguan dari mukhaththab (orang yang diajak bicara)
c. Adanya pengingkaran dari mukhaththab (orang yang diajak bicara)
bersambung
baca selanjutnya