Ringkasan Ilmu Al-Qur’an (Mukhtashar Ulumil-Qur’aan) (9)

SUMPAH DALAM AL-QUR’AN
Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Kata sumpah berasal dari bahasa Arab اْلقَسَمُ al-qasamu yang bermakna اْليَمِينُ al-yamiin yaitu menguatkan sesuatu dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan dengan menggunakan huruf-huruf (sebagai perangkat sumpah) seperti wawu dan huruf lainnya.

Huruf-huruf yang berfungsi sebagai perangkat sumpah ada 3 macam :

1. Wawu ( و)

Seperti firman Allah ta’ala :

فَوَرَبّ السّمَآءِ وَالأرْضِ إِنّهُ لَحَقّ

Maka Demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi)” (QS. Adz-Dzariyaat : 23).

Dengan masuknya huruf wawu – sebagai huruf qasam – maka ’amil (pelaku)nya wajib dihapuskan. Dan setelah wawu harus diikuti dengan isim dlahir.

2. Ba’ ().

Seperti dalam firman Allah ta’ala :

لاَ أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ

”Aku bersumpah dengan hari kiamat” (QS. Al-Qiyaamah : 1).

Dan dengan masuknya huruf Ba’ ini boleh disebutkan ’amil-nya sebagaimana contoh di atas, dan boleh juga menghapusnya, sebagaimana firman Allah ta’ala tentang iblis :

قَالَ فَبِعِزّتِكَ لاُغْوِيَنّهُمْ أَجْمَعِينَ

”(Iblis) berkata : Maka Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya” (QS. Shaad : 82).

Setelah huruf Ba’ boleh diikuti isim dlahir sebagaimana telah dicontohkan di atas, dan boleh juga diikuti oleh isim dlamir, sebagaimana perkataan :

اللهُ رَبِّيْ وَبِهِ أَحْلِفُ لَيَنْصُرُنَّ اْلمُؤمنِيْنَ

”Allah Rabbku, dengan-Nya aku bersumpah sungguh Dia akan menolong orang-orang beriman”

3. Ta’ ( ت)

Seperti dalam firman Allah ta’ala :

تَاللّهِ لَتُسْأَلُنّ عَمّا كُنْتُمْ تَفْتَرُونَ

”Demi Allah, sesungguhnya kamu akan ditanyai tentang apa yang kamu ada-adakan” (QS. An-Nahl : 56).

Dengan masuknya huruf Ta’ ini, ’amil (pelaku)-nya harus dihapuskan dan tidak bisa diikuti sesudahnya kecuali isim jalalah (nama Allah), yaitu الله atau ربّ. Sebagaimana dalam perkataan :

وَرَبِّ اْلكَعْبَةِ لَأحَجَنَّ إِنْ شَآءَ اللهُ

”Demi Rabb Ka’bah, sungguh aku akan berhaji insyaAllah”

Pada dasarnya, kebanyakan al-muqsam bih (sesuatu yang dijadikan dasar atau landasan sumpah) itu disebutkan, sebagaimana pada contoh-contoh terdahulu. Dan kadang-kadang dihapus dengan ‘amil (pelaku)-nya. Bentuk yang seperti ini banyak sekali, misalnya dalam firman Allah ta’ala :

ثُمّ لَتُسْأَلُنّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النّعِيمِ

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (QS. At-Takaatsur : 8).

Pada dasarnya, kebanyakan al-muqsam ‘alaih (sesuatuyang disumpahkan) disebutkan. Seperti dalam firman Allah :

قُلْ بَلَىَ وَرَبّي لَتُبْعَثُنّ

Katakanlah : “Tidak demikian, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan” (QS. At-Taghaabun : 7)

Dan kadang-kadang boleh dihapus, seperti dalam firman Allah ta’ala :

قَ وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ

Qaaf, demi Al-Qur’an yang sangat mulia” (QS. Qaaf : 1).

Dan takdirnya (kata yang tidak disebutkan) adalah لَيُهْلِكُنَّ , sehingga maknanya menjadi : “Qaaf, demi Al-Qur’an yang sangat mulia, sungguh Dia pasti akan membinasakan”.

Dan kadang-kadang wajib dihapuskan apabila diawali atau didahului oleh faktor-faktor yang memperbolehkannya. Berkata Ibnu Hisyam dalam kitab Al-Mughni, dan dicontohkan dalam kaidah nahwu :

“Zaid sedang berdiri, demi Allah “ زَيْدٌ قَائِمٌ وَاللهِ

“Zaid, demi Allah, sedang berdiri” زَيْدٌ وَاللهِ قَائِمٌ

Sumpah memiliki 2 faedah, yaitu :

1. menjelaskan tentang agungnya al-muqsam bihi (yang dijadikan landasan atau dasar sumpah).
2. Menjelaskan tentang pentingnya al-muqsam ‘alaih (sesuatu yang disumpahkan) dan sebagai bentuk penguat atasnya. Oleh karena itu, tidaklah tepat bersumpah kecuali dalam keadaan berikut :

a. Hendaknya sesuatu yang disumpahkan (al-muqsam ‘alaih) itu adalah sesuatu yang penting
b. Adanya keraguan dari mukhaththab (orang yang diajak bicara)
c. Adanya pengingkaran dari mukhaththab (orang yang diajak bicara)

bersambung

baca sebelumnya

baca selanjutnya

About the Author