@ Mahawirasd
1. tergantung siapa saja yang anda kategorikan "ilmuwan"...
dan tentunya tidak sampainya informasi kepada kita bukan berarti hal tersebut tidak ada bukan?
lagipula isi lautan dapat diterka, tapi isi hati siapa tahu?
Saya katakan, saya tidak pernah melihat kaum intelektual atau ilmuwan Islam yang mencecar Islam. Seandainya mereka ada keraguan dalam hati, mengapa mereka tidak lantang menentang Islam/agama ?, seperti yang anda lakukan sekarang. Itu karena dalam kebimbangan mereka, mereka masih condong kepada kebenaran, kepada Islam. Saya melihat fakta2 yang sebaliknya bahwa kaum intelektual dan ilmuwan di Amerika, negara
freedom of Speech dengan mayoritas kaum Kristiani, tidak mengkritik Islam dan bahkan banyak dari mereka yang masuk Islam. Jadi saya harap anda dapat mengesampingkan
prejudice anda bahwa intelektual dan ilmuwan muslim di Indonesia tidak lantang bersuara karena takut akan penghakiman massal.
Saya dapat menerka isi hati atau setidaknya pikiran seseorang dari caranya menyampaikan sesuatu, di sini caranya menulis. Anda tidak melihat contoh pada awal posting ini paragraf yang saya quote ?
Bagi saya ini adalah suatu bukti bukan lagi suatu asumsi/
prujudice4. tampaknya anda yang tidak mengerti prinsip dasar materialisme itu sendiri... materialisme intinya percaya pada empirisme, dan bila "tuhan" merupakan sebuah entitas yang empiris niscaya materialisme tidak akan menolaknya.
Anda yakin anda mengerti apa itu materialisme ?
Mari kita lihat salah satu contoh pandangan seorang materialist, pandangan seorang ahli genetika terkemuka dan evolusionist terpandang, Richard C. Lewontin dari Harvard University:
It is not that the methods and institutions of science somehow
compel us accept a material explanation of the phenomenal
world, but, on the contrary, that we are forced by our a priori adherence to material causes to create an apparatus of investigation
and a set of concepts that produce material explanations, no matter
how counter-intuitive, no matter how mystifying to the
uninitiated. Moreover, that materialism is absolute, so we cannot
allow a Divine Foot in the door.
Richard Lewontin, »The Demon-Haunted World,« The New York Review of Books, 9 January 1997, p. 28.
Dengan jelas dia mengakui bahwa bukti-butki ilmiah (empiris!) berlawanan dengan prinsip materialisme (menolak Tuhan->saya bold), namun dengan bebalnya dia mengemukakan diluar kapasitasnya sebagai ilmuwan bahwa sebagai 'ilmuwan' dia terus mengingatkan kepada rekan2nya sesama ilmuwan bagaimanapun tidak sesuai dengan intuisi dan bagaimanapun kaburnya penjelasannya, prinsip materialisme adalah absolut.
Materialisme tidak lagi berlandaskan empirisme tapi sudah jatuh kepada lembah asumsi dan dogma.Di sini lah yang namanya kekonyolan.
Cukup saya katakan:
Atheist Vs Theist = Philosophers Materialist Vs Scientist =
Asumsi & Dogma Vs Bukti & Fakta = Orang Acuh Vs Orang Berpikir
Masih banyak contoh pengakuan 'ilmuwan'2 serupa.
Jadi saya tanya sekarang kepada anda, siapa yang sebenarnya a priori ?Jika anda secara asumsi pribadi mengatakan pembeda materialisme adalah empirisme, maka paham anda tidak ada bedanya dengan paham ketuhanan Kristiani, yang menuntut adanya bukti empiris Tuhan, Wujud Tuhan.
Jika anda mau menjawab, bolehkah saya bertanya apa agama yang anda peluk sebelum anda menjadi agnostic ?Maka dari ini, saya dapat mengambil kesimpulan sedikit banyak bahwa selama ini pendapat anda adalah bersifat asumsi pribadi, anda tidak pernah memberikan sumber bahkan ketika menyatakan ketidak setujuan anda pada pernyataan mas panda sesuai pernyataan
Max Hokheimer. Jika anda tidak setuju maka silahkan keluarkan pendapat yang berbeda dari pemikir
kompeten lain yang berlawanan dengan Max Hokheimer.
Maka dari itu saya bisa mengerti pandangan anda yang berusaha menggabungkan keduanya.
Tapi bukankah lucu ketika anda bilang keduanya tergabung namun manusia tidak bisa mengetahui yang gaib?
ya anda katakan bisa dengan pendekatan dsbnya, tapi apakah bayangan sama dengan aslinya?
Justru saya yang berusaha mengerti anda yang memisahkan keduanya dalam menjalani hidup, namun anda berusaha menggabungkannya dalam entitas empirisme. Pilihannya begini :
1 Tuhan ada
2 Makhluk hidup ada
Jika Tuhan ada namun sama Wujud, sifat zatnya dengan makhluk hidup ciptaan-Nya, apa yang membedakan Dia dari makhluk hidup ? lebih baik dia tinggal bersama makhluk hidup dengan konsekuensi mempunyai umur, ajal dan kemudian mati.
Pantaskah menjadi Tuhan ?Maka Tuhan sendiri mengatakan bahwa
manusia tidak perlu mencari2 Zat-Nya karena manusia tidak akan sanggup untuk mengolahnya. Tuhan berkata "
Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?". Sehingga cara mengenal Tuhan dalam Islam telah diajarkan Oleh Tuhan. Saya telah sampaikan cara itu sebelumnya. Cara lainnya adalah dengan pengalaman pribadi yang bersifat spiritual.
3. apakah ketika sesuatu "memimpin" berarti sesuatu itu "benar"?
lagipula anda melihatnya selalu pesimis. Ya benar manusia bisa cenderung immoral, tapi manusia bisa juga cenderung moral!
Anda mau melihat sistemnya atau perorangannya?
Apakah tanpa "tuhan" semua manusia 100% menjadi immoral?
bisa anda buktikan atau hanya klaim kosong?
Jika sesuatu memimpin maka anda harus setuju bahwa ada kelebihan di dalamnya. Yang dipimpin bukan berarti salah, namun mereka tidak memiliki pengetahuan yang ada pada pemimpin. Jika dunia Islam memimpin itu berarti ada pengetahuan dalam dunia Islam yang tidak dimiliki oleh non-Islam.
"Peace, Surrender and Obedience to God" [Arabic = 'Islam']
"People who are in Peace, Surrender and Obedience to God" [Arabic = 'Muslim']
Anda sendiri sudah tahu jika tidak ada bukti maka tidak usah mengklaim. Tapi anda yang memulai bahwa tanpa tuhan pun manusia dapat bermoral. Saya tanya kembali, anda dapat memberikan bukti klaim anda ? Saya sudah memberikan bukti dunia Islam pada abad pertengahan sebelum era Perang Salib.
Oleh karena itu jika anda tidak dapat memberikan bukti klaim anda, saya katakan anda klaim kosong.
daripada tidak habis2nya kita berdebat maka saya juga sudah katakan pada posting saya sebelumnya mari kita buktikan saja ke depan. Benar salahnya pendapat kita masing2 saat ini juga tidak ada pengaruhnya terhadap peradaban dunia.
Anda membangun sebuah struktur yang kompleks diatas sebuah asumsi "tuhan ada" (yang paling dasar) namun sebenarnya struktur kompleks tersebut secara inheren menyatakan bahwa fondasinya sendiri tidak dapat diketahui... 1.
gila? siapa yang tidak gila? everybody is crazy in their own little ways...
tapi it's OK, ga ada yg menghakimi disini. Ke"gila"an ini hanya jadi masalah ketika ia menjajah ruang komunal dan membuatnya kacau balau... 2
1. Saya sudah terangkan sebelumnya, pengetahuan ini ada hanya pada seorang muslim, "People who are in Peace, Surrender and Obedience to God" [Arabic = 'Muslim']. Fondasi itu telah kami ketahui bahkan kami imani dan kami sembah, bahwa kami adalah hamba-Nya. Tidak ada yang patut disembah selain Dia, Allah. Dia ada dengan Zat-Nya. Zat-Nya tidak sama dengan ciptaan-Nya. Zat, sifat, dan bentuk yang kita manusia klaim empiris.
Ketahuilah bahwa sesungguhnya Struktur yang anda katakan kompleks itu, difondasikan oleh Dia yang secara 'empiris' sangat jauh lebih kompleks.
2. Maaf, kami muslim tidak akan pernah mengakui kami gila. Pengakuan seperti ini hanya datang dari golongan kaum yang tidak mengakui eksistensi Tuhan. Mungkin untuk pembenaran atau menghibur diri dengan juga menyertakan semua manusia gila, dari rasa bersalah dalam hatinya menolak Dia yang menciptakannya.
Kami muslim telah diperingatkan, bahwa juga dulu ketika zaman Nabi dan Rasul menyampaikan wahyu-Nya akan ada kaum yang menyatakan kami gila. Allah mengingatkan bahwa kami tidak gila, namun mereka lah yang seungguhnya gila dengan penolakan terhadap kebenaran.
Apakah bukti ke'gila'an kami muslim menjajah ruang komunal (tampaknya anda seirng sekali menggunakan kata-kata ini)
2. tidak juga, saya melihat (yang paling deket di indonesia dan yang mudah ditemukan juga di amerika) bahwa tanpa provokasi apapun juga orang2 yang dari kecil dididik sebagai bigot akan terus menjadi bigot...
Anda hanya percaya kepada diri anda sendiri. Anda hanya percaya kepada 'kebenaran' yang anda asumsikan pada diri sendiri. Saya tidak tahu apakah anda angkuh karena jabatan anda yang tinggi, atau pendidikan anda yang tinggi, atau harta anda yang banyak, atau yang lainnya. Hanya satu yang anda tidak dapat menerapkan keangkuhan, kepada-Nya. Selama anda tidak menghilangkan kangkuhan ini dari hati anda tidak dapat menerima kebenaran.
Bagaimana saya dapat katakan anda memiliki keangkuhan ?
Jika anda memang benar maka dapatkah anda menciptakan seekor lalat ? dapatkah anda mengatur benda-benda langit hingga tidak saling bertabrakan ?, sebagaimana Tuhan melakukannya ?
Anda mungkin akan mengatakan kepada saya : " Anda membuat pertanyaan analogi yang tidak benar. Saya tidak percaya Tuhan. Kita semua ini terjadi secara kebetulan. "
Maka kemudian saya akan bertanya, kalau begitu anda percaya kepada apa ?
Anda mungkin akan menjawab : " Yang penting saya berbuat baik selama hidup".
Maka kemudian yang menjadi pertanyaan, " Apa yang akan dilakukan kebetulan alam ini terhadap anda? "
Anda mungkin akan menjawab : " Saya percaya kepada eksistensi alam"
Bagaimana mahawirasd ?
Saya menyimpulkan bahwa selama hidup ini anda percaya kepada eksistensi alam ini termasuk kepada diri anda senidri. Anda hanya percaya kepada diri anda sendiri, sebagai manusia dan juga mempercayai manusia lain sebagai hasil kebetulan alam. Maka apakah itu tidak termasuk kepada penyembahan kepada diri sendiri dan penyembahan kepada alam ? Pantaskah kira2 anda menyembah diri sendiri/akal anda sendiri ?
(saya bingung kenapa malah muslim yang ditanyakan ini oleh seorang Kristiani )
Karena seorang muslim, "People who are in Peace, Surrender and Obedience to God" [Arabic = 'Muslim'] melihat seluruh alam ini berdasarkan apa yang diajarkan Tuhan kepada makhluk ciptaan-Nya, manusia. Sehingga hanya kepada-Nya lah kami menyembah. Dan kami tidak pernah menyerang siapapun penganut kepercayaan ketuhanan lain kecuali jika kami diserang terlebih dahulu.
So let me ask you then, which one of us is really a bigotory ?
Katakanlah: "Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi."
Qur'an [34:49]
Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Qur'an [103]