PaulPutraPagan wrote:Tau kenapa?, gw rasa justru FFI turut berperan menyadarkan umatnya sendiri untuk membaca Alquran dan hadits....terlebih lagi bagi orang2 amerika dan eropa....justru mereka bertanya mengapa Islam begitu dihujat oleh FFI....dan akhirnya menggiring mereka sendiri untuk membaca alquran, sedangkan dia sendiri kegeraja saja memang sudah malas...
Empat tahun lalu, Eropa sempat digemparkan oleh merosotnya jumlah kaum Kristen di tempat kelahirannya sendiri. Saat hal itu terjadi, kekhawatiran melanda para tokoh gereja, bahwa suatu saat AS akan mengalami hal yang serupa. Dan kini, 2009, negeri Paman Sam itu mewujudkan kekhawatiran tersebut.
Tahun 2005, koran AS, USA Today, menurunkan artikel tentang menurunnya pengikut Kristus di Eropa dan berkembangnya sekularisme. Meningkatnya sekularisasi di Eropa terjadi karena pengaruh sosial, politik dan moral yang mengakibatkan para pengikutnya kehilangan iman. Menurunnya populasi Kristen di Eropa dalam dua dekade terakhir dianggap sebagai kejadian luar biasa. Eropa yang merupakan tempat kelahiran peradaban Kristen, kini lebih berpaling ke sekularisme dan memudarkan tradisi-tradisi Kristen.
Selama lebih kurang setengah abad, para peneliti telah mengamati perubahan besar dalam budaya Barat. Meningkatnya bentuk-bentuk sekularisme pada peradaban Eropa telah menemukan pembuktian. “Saya tidak pernah ke gereja, dan saya tidak tahu ada orang yang pergi,” kata Brian Kelly, salah seorang mahasiswa di Dublin, Irlandia. “Padahal lima tahun, saya tidak tahu ada orang yang tidak pergi ke gereja,” imbuhnya.
Statistik menunjukkan, sekularisasi Eropa saat ini tak terbantahkan. Irlandia yang merupakan negara sekuler terakhir di Eropa Barat, menunjukkan penurunan jemaat gereja yang sangat drastis dalam tiga dekade terakhir. Hanya 25 persen dari total pemeluk Kristen. Padahal negeri yang termasuk dalam wilayah Inggris Raya ini didominasi oleh penganut Katholik Roma.
Di kalangan Protestan juga demikian, tidak menunjukkan gambaran yang lebih baik. Swiss, Jerman dan Belanda, kini menjadi contoh utama bentuk sekuler Eropa. Di benua Eropa, hanya Islam satu-satunya agama yang mengalami peningkatan jumlah pemeluk. Sejak tahun 2004, populasi penduduk Muslim di Inggris bertambah sebesar 500,000 hingga 2,4 juta orang. Angka pertumbuhan itu 10 kali lipat lebih pesat dibanding pemeluk agama lainnya. Pada periode yang sama, jumlah penduduk Kristen di Negeri Ratu Elizabeth II tersebut menurun hingga 2 juta orang lebih. (Baca: Sabili Edisi 18-XVI). Demikian pula yang terjadi di Perancis, Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya.
Berdasarkan data pusat studi Kristen global di Gordon-Conwell Theological Seminary Boston, merosotnya pengaruh Kristen tampak nyata di Perancis, Swedia dan Belanda dimana pengunjung gereja kurang dari 10 persen di pelbagai tempat. Kenapa hal ini terjadi? Menurut Ronald Inglehart, Direktur World Values Survey di Swedia, kekristenan telah menjadi sebuah kenyamanan bagi masyarakat hanya pada saat-saat krisis. “Dalam kebanyakan sejarah, orang-orang telah berada pada garis batas kelangsungan hidup. Hal itu berubah secara dramatis. Kelangsungan hidup adalah kemestian pada hampir semua orang (di Barat). Inilah satu di antara sekian alasan yang menyebabkan kepemelukan agama mengikis,” jelasnya.
Dengan kata lain, Inglehart percaya bahwa agama mengisi sebuah fungsi sosial. Ketika fungsi sosial tersebut tidak dibutuhkan lagi, keseluruhan struktur kepercayaan Kristen menjadi tidak penting. Bentuk reduksionisme ini menjadi gejala umum dalam ilmu-ilmu sosial, dimana keyakinan agama hanya dilihat sebagai sesuatu yang fungsional ketimbang kategori-kategori teologis. Sekularisasi yang menekankan teologi liberalisme dan meningkatkan teknologi masyarakat dan kultur individualisme, merupakan faktor-faktor utama di balik keruntuhan hegemoni Kristen di dunia.
Awal abad 20, mayoritas warganegara Eropa mengaku sebagai pemeluk Kristen, kini hanya tinggal 75 persen. Di Swedia, menurut data pemerintah, 85 persen penduduk negeri itu menjadi jemaat gereja, namun hanya 11 persen wanita dan 7 persen pria yang hadir di gereja.
Anehnya, runtuhnya kepercayaan Kristen dan besarnya transformasi gaya hidup Eropa dan ekspektasi moral sejalan seiring. Sebagai sebuah fakta, sulit untuk menentukan bagaimana trend-trend ini bisa beriringan dengan proses sekularisasi. Begitu keyakinan Kristen menurun, moralitas Kristen memberi jalan bagi etos moral individualisme, kebebasan seks, dan mengikisnya komitmen pernikahan, anak-anak dan keluarga.
Runtuhnya kekristenan Eropa mengundang tanya akan masa depan Kristen di AS. Dalam banyak hal, AS akan mengikuti trend tersebut. Dan prediksi itu kini telah terbukti. Nampaknya, ajaran Kristen kian tidak laku di dunia. Saatnya, Islam bangkit dan kembali meraih kejayaannya yang telah lama hilang.
Runtuhnya Kristen di Duniaajaran Kristen kian tidak laku di dunia.
kalau disini, salesnya masih pade getol mempromosiin tuh agama...,
